Kuliner News :
kuliner. MMM. Wasir. UDINUS.

    Belajar

    Showing posts with label Sejarah. Show all posts
    Showing posts with label Sejarah. Show all posts

    Zaman Es

    Bagaimana rasanya jika daratan tertutup lapisan es yang tebal bahkan mencapai 1.000 m, temperatur bumi pun anjlok minus derajat Celcius. Itu terjadi pada puncak glasial (zaman es) kira-kira 18.000 tahun yang lalu.

    Pada zaman es air laut membeku sehingga permukaan air laut turun sampai 100 meter dan garis pantai pun menjorok kelaut dan kemungkinan ada beberapa pulau-pulau menyatu pada aat zaman es tersebut.

    Proses terjadi nya zaman es

    Zaman es disebabkan oleh berbagai perubahan orbit bumi dan sumbu rotasi bumi. Bumi berotasi pada sumbunya yang miring 23,5 derajat dan setiap 41.000 tahun sekali atau kelipatannya sudut Bumi berubah beberapa derajat (contoh menjadi 23,1 derajat). Semakin besar perubahan kemiringan rotasi Bumi semakin bear perubahan musim yang terjadi.

    Selain itu, orbit bumi pun berubah selama periode 100.000 tahun. Perubahan orbit Bumi dari bentuk sirkular (bundar) menjadi berbentuk oval (elips).

    Perubahan orbit dan sudut rotasi Bumi mempengaruhi cahaya matahari yang menyinari Bumi. Maka setiap 100.000 tahun sekali iklim Bumi menjadi lebih dingin, musim dingin berlangsung selama beberapa ratus tahun. Akibatnya salju akan turun terus-menerus membentuk lapisan es yang tebal, air laut pun membeku, zaman itu pun dinamai zaman es.

    sumber: wikipedia

    Penemuan perahu Mesir Kuno berumur 4000 tahun


    Reruntuhan kapal laut berumur 4000 tahun silam yang ditemukan dalam gua-gua buatan manusia menunjukkan bahwa orang Mesir kuno memiliki kemampuan mengarungi laut yang bergelora, berombak ganas untuk sampai ke “Pulau Dewata” yang dikenal dalam hikayat mereka bernama “Punt”.
    Enam buah gua berbentuk batu karang, terpotong menjadi sebuah tebing yang curam di Wadi Gawasis, 21 km di sebelah Selatan Kota Port Safaga di Laut Merah, ditemukan oleh sebuah tim ilmuwan internasional, termasuk ahli perkapalan kuno, Cheril Ward dari Universitas Negeri Florida, Amerika Serikat. “Gua-gua tersebut pada masa lalu digunakan oleh orang Mesir kuno sebagai bengkel kerja dan gudang untuk melindungi peralatan dari keadaan padang gurun yang tidak bersahabat”, jelas Profesor Ward.


    Masih menurut Profesor Ward, situs arkeologi tersebut bagaikan sebuah markas militer, dan artefak yang ada di sana menunjukkan adanya para administrator terbaik yang pernah dikenal dunia. “Ini merupakan situs yang telah menyimpan demikian banyak rahasia yang dimilikinya selama 40 abad,” ujarnya.


    Pada papan-papan kayu, yang merupakan kayu kapal tertua di dunia, ditemukan cacing-cacing kapal yang menunjukkan bahwa pelayaran kapal tersebut berlangsung selama beberapa bulan. Cacing-cacing tersebut ditemukan bersamaan dengan kotak-kotak kargo, jangkar-jangkar batu, lebih dari 80 gulungan tali yang tersimpan dengan sempurna, dan sebuah lempengan batu bertuliskan lima nama ningrat dari Farao Amenemhat III yang berkuasa dari tahun 1844 hingga 1797 SM. Artefak-artefak tersebut tersimpan dengan sangat baik karena gua-gua tersebut ditutup rapat setiap kali perahu itu habis berlayar.

    Pusat niaga di Punt, diperkirakan berada di Ethiopia atau di Yaman, berjarak 1600 km dari gua-gua tersebut. Bagaimana orang-orang Mesir kuno berlayar ke tempat ini, seperti yang ada dalam tulisan Mesir kuno pada kotak-kotak kargo yang ditemukan dalam gua-gua tersebut, sampai kini masih merupakan rekaan dan spekulasi. Banyak ahli tidak percaya orang-orang Mesir kuno memiliki teknologi pelayaran yang demikian maju, namun penemuan-penemuan di Wadi Gawasis memberikan bukti kuat yang menunjukkan bahwa orang-orang Mesir kuno telah memiliki kemampuan melakukan pelayaran jarak jauh.


    Profesor Ward menginterpretasikan penemuannya lebih lanjut. “Pada sejumlah kayu masih tercantum nomor yang boleh jadi merupakan sebuah petunjuk dalam perakitan. Ward menduga kapal-kapal ini pada awalnya dibuat di galangan kapal di Sungai Nil, kemudian bagian-bagian kapal yang bisa dirakit kembali dibawa menyeberangi padang gurun sejauh 140 km menuju Laut Merah, dimana dilakukan perakitan dan peluncuran kapal.”


    Ketika pelayaran telah selesai, kapal-kapal ini di bongkar kembali dan bagian-bagian yang telah dipisahkan satu sama lain siap diangkut pulang ke Sungai Nil untuk digunakan di kemudian hari. Menurut perkiraan Profesor Ward, sebanyak 3700 pria mungkin telah terlibat dalam seluruh ekspedisi ini. Pelayaran ini tertata dan terselenggara dengan sangat baik, namun tampaknya sebuah masa ketidakstabilan politik telah membuat pelayaran ini terhenti, lanjut Profesor Ward, dan meninggalkan gua-gua serta harta karun mereka terkunci selama 40 abad. Rincian studi ini akan dipublikasikan dalam penerbitan Jurnal Internasional Arkeologi Kelautan, dan sebuah studi lebih lanjut pada situs tersebut akan dilakukan tahun depan.

    Relief Misterius di Kaki Borobudur


    Siapa tak terpesona menatap keindahan Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah?

    Dibangun pada masa Raja Samaratungga dari Wangsa Syailendra pada tahun 824, Borobudur terdiri dari 1460 panel relief dan 504 stupa. Namun, panel yang selama ini terlihat ternyata belum lengkap. Ada panel-panel yang sengaja ditimbun tanah karena reliefnya dianggap vulgar dan cabul. Panel-panel itu terletak di bagian paling bawah, yang disebut Kamadhatu.

    Bagian fondasi tersembunyi itu terdiri dari 160 relief adegan Sutra Karmawibhangga atau hukum sebab-akibat. Panel-panel itu menggambarkan perbuatan yang mengikuti hawa nafsu manusia, semisal: bergosip, membunuh, menyiksa dan memerkosa. Juga ada adegan-adegan seks dalam berbagai posisi.

    Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial Universitas Indonesia, Edi Sedyawati mengemukakan, relief Karmawibhangga itu menggambarkan kehidupan masyarakat saat candi itu dibangun.

    Ada sejumlah pendapat mengapa relief ini ditimbun. Bisa jadi karena kurang pantas dipertontonkan ke publik, tapi ada pula yang menduga penutupan ini semata-mata demi kestabilan posisi candi — agar tidak amblas.

    Terlepas dari perdebatan itu, keseluruhan relief di Borobudur mencerminkan ajaran Budha Mahayana: semakin ke atas semakin mencapai kesempurnaan. Bagian paling bawah atau Kamadhatu menggambarkan perilaku penuh angkara murka dan hawa nafsu yang menyebabkan seseorang masuk neraka jahanam.

    Bagian tengah (terdiri dari empat tingkat) dinamakan Rapadhatu, tempat manusia dibebaskan dari nafsu dan hal-hal duniawi. Sedangkan bagian teratas — termasuk tiga teras melingkar yang mengarah ke pusat kubah—disebut Arupadhatu, tempat para dewa bersemayam atau nirwana.

    Keberadaan Borobudur sesungguhnya telah diketahui penduduk lokal di abad ke-18. Sempat tertimbun material Gunung Merapi, candi ini lalu ditemukan kembali oleh Sir Stanford Raffles pada 1814. Selanjutnya, pada 1885, arkeolog JW Yzerman mendokumentasi dan merekam reliefnya. Saat itulah, timnya menemukan relief tersembunyi di bagian paling bawah.

    Sekitar tahun 1890-1891, bagian yang tertutup itu dibuka seluruhnya oleh fotografer Kasiyan Chepas untuk dipotret satu per satu. Batu bervolume 13000 meter kubik ini diangkat, lalu dikembalikan lagi ke posisi semula. Hingga hari ini, bagian itu ditimbun tanah sehingga tak seorangpun bisa melihat. Ada tiga panel di bagian tenggara candi yang terbuka--diduga karena proses penutupan kembali yang tak sempurna.

    Hasil bidikan Chepas kemudian dibukukan pada 1931. Buku aslinya kini ada di Museum Nasional, Jakarta. Sedangkan klise asli disimpan di Museum Tropen, Amsterdam karena statusnya milik Pemerintah Belanda. Pemerintah Indonesia memiliki replika seluruh foto itu.
    sumber:

    Atlantik, Kota yang Hilang



    Atlantis, Atalantis,atau Atlantika(bahasa Yunani: แผˆฯ„ฮปฮฑฮฝฯ„แฝถฯ‚ ฮฝแฟ†ฯƒฮฟฯ‚, "pulau Atlas") adalah pulau legendaris yang pertama kali disebut oleh Plato dalam buku Timaeus dan Critias.[2]
    Dalam catatannya, Plato menulis bahwa Atlantis terhampar "di seberang pilar-pilar Herkules", dan memiliki angkatan laut yang menaklukan Eropa Barat dan Afrika 9.000 tahun sebelum waktu Solon, atau sekitar tahun 9500 SM. Setelah gagal menyerang Yunani, Atlantis tenggelam ke dalam samudra "hanya dalam waktu satu hari satu malam".
    Atlantis umumnya dianggap sebagai mitos yang dibuat oleh Plato untuk mengilustrasikan teori politik. Meskipun fungsi cerita Atlantis terlihat jelas oleh kebanyakan ahli, mereka memperdebatkan apakah dan seberapa banyak catatan Plato diilhami oleh tradisi yang lebih tua. Beberapa ahli mengatakan bahwa Plato menggambarkan kejadian yang telah berlalu, seperti letusan Thera atau perang Troya, sementara lainnya menyatakan bahwa ia terinspirasi dari peristiwa kontemporer seperti hancurnya Helike tahun 373 SM atau gagalnya invasi Athena ke Sisilia tahun 415-413 SM.
    Masyarakat sering membicarakan keberadaan Atlantis selama Era Klasik, namun umumnya tidak mempercayainya dan kadang-kadang menjadikannya bahan lelucon. Kisah Atlantis kurang diketahui pada Abad Pertengahan, namun, pada era modern, cerita mengenai Atlantis ditemukan kembali. Deskripsi Plato menginspirasikan karya-karya penulis zaman Renaissance, seperti "New Atlantis" karya Francis Bacon. Atlantis juga mempengaruhi literatur modern, dari fiksi ilmiah hingga buku komik dan film. Namanya telah menjadi pameo untuk semua peradaban prasejarah yang maju (dan hilang).Catatan Plato
    Lukisan Plato.

    Dua dialog Plato, Timaeus dan Critias, yang ditulis pada tahun 360 SM, berisi referensi pertama Atlantis. Plato tidak pernah menyelesaikan Critias karena alasan yang tidak diketahui; namun, ahli yang bernama Benjamin Jowett, dan beberapa ahli lain, berpendapat bahwa Plato awalnya merencanakan untuk membuat catatan ketiga yang berjudul Hermocrates. John V. Luce mengasumsikan bahwa Plato — setelah mendeskripsikan asal usul dunia dan manusia dalam Timaeus, dan juga komunitas sempurna Athena kuno dan keberhasilannya dalam mempertahankan diri dari serangan Atlantis dalam Critias — akan membahas strategi peradaban Helenik selama konflik mereka dengan bangsa barbar sebagai subyek diskusi dalam Hermocrates.

    Empat tokoh yang muncul dalam kedua catatan tersebut adalah politikus Critias dan Hermocrates dan juga filsuf Socrates dan Timaeus, meskipun hanya Critias yang berbicara mengenai Atlantis. Walaupun semua tokoh tersebut merupakan tokoh bersejarah (hanya tiga tokoh pertama yang dibawa),[3] catatan tersebut mungkin merupakan karya fiksi Plato. Dalam karya tertulisnya, Plato menggunakan dialog Socrates untuk mendiskusikan posisi yang saling berlawanan dalam hubungan prakiraan.
    Terjemahan Latin Timaeus, dibuat pada abad pertengahan.
    [sunting] Timaeus

    Timaeus dimulai dengan pembukaan, diikuti dengan catatan pembuatan dan struktur alam semesta dan peradaban kuno. Dalam bagian pembukaan, Socrates merenungkan mengenai komunitas yang sempurna, yang dideskripsikan dalam Republic karya Plato, dan berpikir apakah ia dan tamunya dapat mengingat sebuah cerita yang mencontohkan peradaban seperti itu.

    Pada buku Timaeus, Plato berkisah:
    “ Di hadapan Selat Mainstay Haigelisi, ada sebuah pulau yang sangat besar, dari sana kalian dapat pergi ke pulau lainnya, di depan pulau-pulau itu adalah seluruhnya daratan yang dikelilingi laut samudera, itu adalah kerajaan Atlantis. Ketika itu Atlantis baru akan melancarkan perang besar dengan Athena, namun di luar dugaan, Atlantis tiba-tiba mengalami gempa bumi dan banjir, tidak sampai sehari semalam, tenggelam sama sekali di dasar laut, negara besar yang melampaui peradaban tinggi, lenyap dalam semalam.[4] ”
    [sunting] Critias
    Poseidon karya Bronzino (1503–1572).

    Critias menyebut kisah yang diduga sejarah yang akan memberikan contoh sempurna, dan diikuti dengan deskripsi Atlantis. Dalam catatannya, Athena kuno mewakili "komunitas sempurna" dan Atlantis adalah musuhnya, mewakili ciri sempurna sangat antitesis yang dideskripsikan dalam Republic. Critias mengklaim bahwa catatannya mengenai Athena kuno dan Atlantis berhaluan dari kunjungan ke Mesir oleh penyair Athena, Solon pada abad ke-6 SM. Di Mesir, Solon bertemu pendeta dari Sais, yang menerjemahkan sejarah Athena kuno dan Atlantis, dicatat pada papiri di heroglif Mesir, menjadi bahasa Yunani. Menurut Plutarch, Solon bertemu dengan "Psenophis Heliopolis, dan Sonchis Saite, yang paling dipelajari dari semua pendeta" (Kehidupan Solon). Karena jarak 500 tahun lebih antara Plutarch dan peristiwa yang bersifat sebagai alasan atau dalih, dan karena informasi ini tidak ada pada Timaeus dan Critias, identifikasi ini dipertanyakan.

    Menurut Critias, dewa Helenik membagi wilayah sehingga tiap dewa dapat memiliki; Poseidon mewarisi wilayah pulau Atlantis. Pulau ini lebih besar daripada Libya kuno dan Asia Kecil yang disatukan,[1] tetapi akan tenggelam karena gempa bumi dan menjadi sejumlah lumpur yang tak dapat dilewati, menghalangi perjalanan menyebrang samudra. Bangsa Mesir mendeskripsikan Atlantis sebagai pulau yang terletak kira-kira 700 kilometer, kebanyakan terdiri dari pegunungan di wilayah utara dan sepanjang pantai, dan melinkungi padang rumput berbentuk bujur di selatan "terbentang dalam satu arah tiga ribu stadia (sekitar 600 km), tetapi di tengah sekitar dua ribu stadia (400 km).

    Wanita asli Atlantis bernama Cleito (putri dari Evenor dan Leucippe) tinggal disini. Poseidon jatuh cinta padanya, lalu memperistri gadis muda itu dan melahirkan lima pasang anak laki-laki kembar. Poseidon membagi pulau menjadi 10 wilayah yang masing-masing diserahkan pada 10 anak. Anak tertua, Atlas, menjadi raja atas pulau itu dan samudra disekitarnya (disebut Samudra Atlantik untuk menghormati Atlas). Nama "Atlantis" juga berasal dari namanya, yang berari "Pulau Atlas".

    Poseidon mengukir gunung tempat kekasihnya tinggal menjadi istana dan menutupnya dengan tiga parit bundar yang lebarnya meningkat, bervariasi dari satu sampai tiga stadia dan terpisah oleh cincin tanah yang besarnya sebanding. Bangsa Atlantis lalu membangun jembatan ke arah utara dari pegunungan, membuat rute menuju sisa pulau. Mereka menggali kanal besar ke laut, dan di samping jembatan, dibuat gua menuju cincin batu sehingga kapal dapat lewat dan masuk ke kota di sekitar pegunungan; mereka membuat dermaga dari tembok batu parit. Setiap jalan masuk ke kota dijaga oleh gerbang dan menara, dan tembok mengelilingi setiap cincin kota. Tembok didirikan dari bebatuan merah, putih dan hitam yang berasal dari parit, dan dilapisi oleh kuningan, timah dan orichalcum (perunggu atau kuningan).

    Menurut Critias, 9.000 tahun sebelum kelahirannya, perang terjadi antara bangsa yang berada di luar Pilar-pilar Herkules (umumnya diduga Selat Gibraltar), dengan bangsa yang tinggal di dalam Pilar. Bangsa Atlantis menaklukan Libya sampai sejauh Mesir dan benua Eropa sampai sejauh Tirenia, dan menjadikan penduduknya budak. Orang Athena memimpin aliansi melawan kekaisaran Atlantis, dan sewaktu aliansi dihancurkan, Athena melawan kekaisaran Atlantis sendiri, membebaskan wilayah yang diduduki. Namun, nantinya, muncul gempa bumi dan banjir besar di Atlantis, dan hanya dalam satu hari satu malam, pulau Atlantis tenggelam dan menghilang.
    [sunting] Catatan kuno lainnya

    Selain Timaeus dan Critias, tidak terdapat catatan kuno mengenai Atlantis, yang berarti setiap catatan mengenai Atlantis lainnya berdasarkan dari catatan Plato.

    Banyak filsuf kuno menganggap Atlantis sebagai kisah fiksi, termasuk (menurut Strabo) Aristoteles. Namun, terdapat filsuf, ahli geografi dan sejarawan yang percaya akan keberadaan Atlantis.[5] Filsuf Crantor, murid dari murid Plato, Xenocrates, mencoba menemukan bukti keberadaan Atlantis. Karyanya, komentar mengenai Timaeus, hilang, tetapi sejarawan kuno lainnya, Proclus, melaporkan bahwa Crantor berkelana ke Mesir dan menemukan kolom dengan sejarah Atlantis tertulis dalam huruf heroglif.[6] Plato tidak pernah menyebut kolom tersebut. Menurut filsuf Yunani, Solon melihat kisah Atlantis dalam sumber yang berbeda yang dapat "diambil untuk diberikan".[7]

    Bagian lain dari komentar abad ke-5 Proclus mengenai Timaeus memberi deskripsi geografi Atlantis. Menurut mereka, terdapat tujuh pulau di laut tersebut pada saat itu, tanah suci untuk Persephone, dan juga tiga lainnya dengan besar yang sangat besar, salah satunya tanah suci untuk Pluto, lainnya untuk Ammon, dan terakhir di antaranya untuk Poseidon, dengan luas ribuan stadia. Penduduknya—mereka menambah—memelihara ingatan dari nenek moyang mereka mengenai pulau besar Atlantis yang pernah ada dan telah berkuasa terhadap semua pulau di laut Atlantik dan suci untuk Poseidon. Kini, hal tersebut telah ditulis Marcellus dalam Aethiopica".[8] Marcellus masih belum diidentifikasi.

    Sejarawan dan filsuf kuno lainnya yang mempercayai keberadaan Atlantis adalah Strabo dan Posidonius.[9]

    Catatan Plato mengenai Atlantis juga telah menginspirasi beberapa imitasi parodik: hanya beberapa dekade setelah Timaeus dan Critias, sejarawan Theopompus dari Chios menulis mengenai wilayah yang disebut Meropis. Deskripsi wilayah ini ada pada Buku 8 Philippica, yang berisi dialog antara Raja Midas dan Silenus, teman dari Dionysus. Silenus mendeskripsikan Bangsa Meropid, ras manusia yang tumbuh dua kali dari ukuran tubuh biasa, dan menghuni dua kota di pulau Meropis (Cos?): Eusebes (ฮ•แฝฯƒฮตฮฒฮฎฯ‚, "kota Pious") dan Machimos (ฮœฮฌฯ‡ฮนฮผฮฟฯ‚, "kota-Pertempuran"). Ia juga melaporkan bahwa angkatan bersenjata sebanyak sepuluh juta tentara menyebrangi samudra untuk menaklukan Hyperborea, tetapi meninggalkan proposal ini ketika mereka menyadari bahwa bangsa Hyperborea adalah bangsa terberuntung di dunia. Heinz-Gรผnther Nesselrath menyatakan bahwa cerita Silenus merupakan jiplakan dari kisah Atlantis, untuk alasan membongkar ide Plato untuk mengejek.[10]

    Zoticus, seorang filsuf Neoplatonis pada abad ke-3, menulis puisi berdasarkan catatan Plato mengenai Atlantis.[11]

    Sejarawan abad ke-4, Ammianus Marcellinus, berdasarkan karya Timagenes (sejarawan abad ke-1 SM) yang hilang, menulis bahwa Druid dari Galia mengatakan bahwa sebagian penduduk Galia bermigrasi dari kepulauan yang jauh. Catatan Ammianus dianggap oleh sebagian orang sebagai klaim bahwa ketika Atlantis tenggelam, penduduknya mengungsi ke Eropa Barat; tetapi Ammianus mengatakan bahwa “Drasidae (Druid) menyebut kembali bahwa sebagian dari penduduk merupakan penduduk asli, tetapi lainnya juga bermigrasi dari kepulauan dan wilayah melewati Rhine" (Res Gestae 15.9), tanda bahwa imigran datang ke Galia dari utara dan timur, tidak dari Samudra Atlantik.[12]

    Risalah Ibrani mengenai perhitungan astronomi pada tahun 1378/79, yang merupakan parafrase karya Islam awal yang tidak diketahui, menyinggung mitologi Atlantis dalam diskusi mengenai penentuan titik nol kalkulasi garis bujur.[13]
    [sunting] Catatan modern
    Peta menunjukan wilayah kekuasaan Kekaisaran Atlantis. Peta dibuat oleh Ignatius L. Donnelly.

    Novel Francis Bacon tahun 1627, The New Atlantis (Atlantis Baru), mendeskripsikan komunitas utopia yang disebut Bensalem, terletak di pantai barat Amerika. Karakter dalam novel ini memberikan sejarah Atlantis yang mirip dengan catatan Plato. Tidak jelas apakah Bacon menyebut Amerika Utara atau Amerika Selatan.

    Novel Isaac Newton tahun 1728, The Chronology of the Ancient Kingdoms Amended (Kronologi Kerajaan Kuno Berkembang), mempelajari berbagai hubungan mitologi dengan Atlantis. [14]

    Pada pertengahan dan akhir abad ke-19, beberapa sarjana Mesoamerika, dimulai dari Charles Etienne Brasseur de Bourbourg, dan termasuk Edward Herbert Thompson dan Augustus Le Plongeon, menyatakan bahwa Atlantis berhubungan dengan peradaban Maya dan Aztek.
    Ignatius L. Donnelly.

    Pada tahun 1882, Ignatius L. Donnelly mempublikasikan Atlantis: the Antediluvian World. Karyanya menarik minat banyak orang terhadap Atlantis. Donnelly mengambil catatan Plato mengenai Atlantis dengan serius dan menyatakan bahwa semua peradaban kuno yang diketahui berasal dari kebudayaan Neolitik tingginya.

    Selama akhir abad ke-19, ide mengenai legenda Atlantis digabungkan dengan cerita-cerita "benua hilang" lainnya, seperti Mu dan Lemuria. Helena Blavatsky, "Nenek Pergerakan Era Baru", menulis dalam The Secret Doctrine (Doktrin Rahasia), bahwa bangsa Atlantis adalah pahlawan budaya (kontras pada Plato yang mendeskripsikan mereka sebagai masalah militer), dan "Akar Ras" ke-4, yang diteruskan oleh "Ras Arya". Rudolf Steiner menulis evolusi budaya Mu atau Atlantis. Edgar Cayce, pertama kali menyebut Atlantis tahun 1923,[15] dan nantinya menjelaskan bahwa lokasi Atlantis berada di Karibia, dan menyatakan bahwa Atlantis adalah peradaban berevolusi tinggi kuno, kini telah tenggelam, yang memiliki kapal dan pesawat tempur menggunakan energi dalam bentuk kristal energi misterius. Ia juga memprediksi bahwa sebagian dari Atlantis akan naik ke permukaan tahun 1968 atau 1969. Jalan Bimini, yang ditemukan oleh Dr.J Manson Valentine, merupakan formasi batu tenggelam yang terlihat seperti jalan di sebelah utara Kepulauan Bimini Utara. Jalan ini ditemukan pada tahun 1968 dan diklaim sebagai bukti peradaban yang hilang dan kini masih diteliti.

    Telah diklaim bahwa sebelum era Eratosthenes tahun 250 SM, penulis Yunani menyatakan bahwa lokasi Pilar-pilar Herkules berada di Selat Sisilia, namun tidak terdapat bukti yang cukup untuk membuktikan hal tersebut. Menurut Herodotus (circa 430 SM), ekspedisi Finisi telah berlayar mengitari Afrika atas perintah firaun Necho, berlayar ke selatan Laut Merah dan Samudera Hindia dan bagian utara di Atlantik, memasuki kembali Laut Tengah melalui Pilar Hercules. Deskripsinya di Afrika barat laut menjelaskan bahwa ia melokasikan Pilar Hercules dengan tepat di tempat pilar Hercules berada saat ini. Kepercayaan bahwa pilar Hercules yang telah diletakan di Selat Sisilia menurut Eratosthenes, telah dikutip dalam beberapa teori Atlantis.
    Edgar Cayce.
    [sunting] Ide Nasionalis

    Konsep Atlantis menarik perhatian teoris Nazi. Pada tahun 1938, Heinrich Himmler mengorganisir pencarian di Tibet untuk menemukan sisa bangsa Atlantis putih. Menurut Julius Evola (Revolt Against the Modern World, 1934), bangsa Atlantis adalah manusia super (รœbermensch) Hyperborea—Nordik yang berasal dari Kutub Utara (lihat Thule). Alfred Rosenberg (The Myth of the Twentieth Century, 1930) juga berbicara mengenai kepala ras "Nordik-Atlantis" atau "Arya-Nordik".
    [sunting] Hipotesa terkini

    Dengan teori continental drift secara luas diterima selama tahun 1960-an, kebanyakan teori "Benua Hilang" Atlantis mulai menyusut popularitasnya. Beberapa teoris terkini mengusulkan bahwa elemen cerita Plato berasal dari mitologi awal.
    [sunting] Hipotesa lokasi
    Citra satelit Santorini dari udara. Tempat ini merupakan salah satu dari banyak tempat yang diduga sebagai lokasi Atlantis.

    Sejak Donnelly, terdapat lusinan - bahkan ratusan - usulan lokasi Atlantis. Beberapa hipotesis merupakan hipotesis arkeologi atau ilmiah, sementara lainnya berdasarkan fisika atau lainnya. Banyak tempat usulan yang memiliki kemiripan karakteristik dengan kisah Atlantis (air, bencana besar, periode waktu yang relevan), tetapi tidak ada yang berhasil dibuktikan sebagai kisah sejarah Atlantis yang sesungguhnya.

    Kebanyakan lokasi yang diusulkan berada atau di sekitar Laut Tengah. Pulau seperti Sardinia, Kreta dan Santorini, Sisilia, Siprus dan Malta; kota seperti Troya, Tartessos, dan Tantalus (di provinsi Manisa), Turki; dan Israel-Sinai atau Kanaan. Letusan Thera besar pada abad ke-17 atau ke-16 SM menyebabkan tsunami besar yang diduga para ahli menghancurkan peradaban Minoa di sekitar pulau Kreta yang semakin meningkatkan kepercayaan bahwa bencana ini mungkin merupakan bencana yang menghancurkan Atlantis.[16] Terdapat wilayah di Laut Hitam yang diusulkan sebagai lokasi Atlantis: Bosporus dan Ancomah (tempat legendaris di dekat Trabzon). Sekitar Laut Azov diusulkan sebagai lokasi lainnya tahun 2003.[17] A. G. Galanopoulos menyatakan bahwa skala waktu telah berubah akibat kesalahan penerjemahan, kemungkinan kesalahan penerjemahan bahasa Mesir ke Yunani; kesalahan yang sama akan mengurangi besar Kerajaan Atlantis Plato menjadi sebesar pulau Kreta, yang meninggalkan kota dengan ukuran kawah Thera. 900 tahun sebelum Solon merupakan abad ke-15 SM.[18]

    Beberapa hipotesis menyatakan Atlantis berada pada pulau yang telah tenggelam di Eropa Utara, termasuk Swedia (oleh Olof Rudbeck di Atland, 1672–1702), atau di Laut Utara. Beberapa telah mengusulkan Al-Andalus atau Irlandia sebagai lokasi.[19] Kepulauan Canary juga dinyatakan sebagai lokasi yang mungkin, sebelah barat selat Gibraltar tetapi dekat dengan Laut Tengah. Berbagai kepulauan di Atlantik juga dinyatakan sebagai lokasi yang mungkin, terutama Kepulauan Azores. Pulau Spartel yang telah tenggelam di selat Gibraltar juga telah diusulkan.[20]

    Antarktika, Indonesia, dibawah Segitiga Bermuda,[21] dan Laut Karibia telah diusulkan sebagai lokasi Atlantis. Kisah benua "Kumari Kandam" yang hilang di India telah menginspirasi beberapa orang untuk menggambarkannya secara paralel dengan Atlantis. Menurut Ignatius L. Donnelly dalam bukunya, Atlantis: The Antediluvian World, terdapat hubungan antara Atlantis dan Aztlan (tempat tinggal nenek moyang suku Aztek). Ia mengklaim bahwa suku Aztek menunjuk ke timur Karibia sebagai bekas lokasi Aztlan.Lokasi yang diduga sebagai lokasi Atlantis adalah:

    * Al-Andalus
    * Kreta dan Santorini
    * Turki
    * Di dekat Siprus
    * Timur Tengah
    * Malta
    * Sardinia
    * Troya
    * Antarktika
    * Australia
    * Kepulauan Azores
    * Tepi Bahama dan Karibia
    * Bolivia
    * Laut Hitam
    * Inggris
    * Irlandia
    * Kepulauan Canary dan Tanjung Verde
    * Denmark
    * Finlandia
    * Indonesia
    * Isla de la Juventud dekat Kuba
    * Meksiko
    * Laut Utara
    * Estremadura, Portugal
    * Swedia

    Saintis masih kaji tempat tinggalan arkeologi ‘bandar sains’ berdasarkan kepada cerita Plato


    GAMBARAN ibu kota Atlantis yang dibina di tengah pulau seperti
    diceritakan Plato.

    SELEPAS terdiam sejenak, Plato memulakan ceritanya. Antara cebisan kisah seperti diceritakan ahli falsafah Greek sekitar abad ke-350 itu berbunyi lebih kurang begini:

    Terdapat sebuah pulau besar yang hebat di Lautan Atlantik, ribuan tahun sebelum zaman kelahirannya dan pulau itu dinamakan Pulau Atlas atau ‘Atlantis’.

    Pulau itu sungguh hebat dan sudah mencapai kemuncak sains dan teknologi (walaupun ketika itu sudah ribuan tahun berlalu daripada sekarang)!

    Aspek sains dan teknologi terlalu maju sehingga dikatakan terdapat kapal udara bagi mengangkut tentera, terbang tanpa menggunakan minyak. Saintisnya berjaya mencipta aloi misteri yang bercahaya dan amat keras.

    Kemajuan sains juga sehingga penyelidik Atlantis pandai melakukan kacukan haiwan dan tumbuhan selain mempunyai alat komunikasi seperti sidang televideo yang jauh lebih hebat daripada teknologi yang dicipta abad ini.

    Setiap ilmu dan ciptaan teknologi yang dimiliki saintis negara itu akan dikongsi bersama seluruh warga Atlantis untuk membolehkan kemajuan dipertingkatkan.

    Atlantis (kononnya) kurniaan tuhan kepada dewa laut, Neptune yang memiliki lima pasang anak kembar dan setiap seorang diberikan kawasan tertentu untuk ditadbir.

    Keluasannya 600 darab 400 kilometer persegi dan memiliki ladang luas (seluas Oklohama, Amerika syarikat) sehingga mampu menampung makanan 15 juta hingga 30 juta penduduk. Tenteranya saja seramai 1.6 juta orang.

    Negara itu disinari matahari terik sepanjang tahun. Selain tanaman seperti pisang, nanas dan kelapa sebagai tanaman utama, rantau Atlantis dipenuhi bijih timah dan emas.

    Bandar rayanya indah sekali, terusan besar dibina menghubungkan bandar dengan

    lautan bagi memudahkan kapal belayar terus ke bulatan air; jambatan merintangi bulatan pula dikelilingi taman indah, pokok subur dan puluhan air pancuran berkilauan.

    Ibu kotanya dibina di tengah pulau dengan bangunan mewah disusun harmoni menghasilkan seni landskap memukau. Bangunan disusun berselang seli dengan batu bata hitam, putih dan merah. Bangunan mewah dihias pancuran air panas dan sejuk selain dewan makan dan dinding konkrit dibuat daripada batu bata berharga.

    Dalam Atlantis ada istana, tempat ibadat, pelabuhan, sistem perairan canggih, universiti, makmal dan bangunan akademik yang menjadi pusat kajian sains dan kemanusiaan.

    Begitu lama Atlantis hidup gah dengan kemewahan dan kemajuan pembangunan serta tamadun sehingga menyebabkan penduduknya mula takbur dan melakukan dosa.

    Akhirnya, lantaran dosa dan sikap penduduknya, kemajuan teknologi dan kehebatan Atlantis yang dicapai sebegitu lama akhirnya musnah dalam tempoh semalaman.

    Atlantis akhirnya tenggelam ke dasar laut akibat hukuman yang dinatijahkan menerusi letupan gunung sucinya iaitu Atlas.

    Demikianlah antara cedukan maklumat hasil keterangan Plato mengenai tamadun Atlantis yang kini terus menjadi misteri di kalangan pengkaji profesional sehinggalah kepada rakyat biasa di seluruh dunia.

    Pengkaji terus mencari di manakah sebenarnya lokasi Atlantis pada bulatan Bumi sebelum ia tenggelam. Pelbagai maklumat geografi hasil kisah Plato seperti dicatat dalam ‘Timaeus and Critias’ terus dikaji dan dirujuk silang dengan topografi ketika ini.

    Harapan untuk menjumpai kesan tamadun Atlantis tidak pernah padam kerana sesiapa yang berjaya menemui arkeologi tinggalan benua itu digambarkan akan menjadi individu atau pihak ‘paling berkuasa’ di muka Bumi!

    Ini disebabkan Atlantis digambarkan memiliki teknologi canggih termasuk keupayaan ketenteraan yang melebihi kemampuan teknologi dicapai manusia abad ini. Ia memang menakjubkan tambahan pula jika dilihat kecanggihan itu dicapai lebih 11,000 tahun lalu!

    Keterangan Plato menyebabkan ramai berfikir dua kali kerana sebelum ini, mereka menyangka sains dan teknologi baru saja berkembang sekitar 1,000 tahun lalu. Mana mungkin 11,000 tahun lalu sudah ada dunia futuristik yang lebih hebat daripada sekarang?

    Tetapi jika benar dunia Atlantis yang amat maju itu wujud, maka penemuan tinggalan arkeologi tamadun itu bakal menyingkap pelbagai rahsia sains dan teknologi yang masih belum dicapai manusia ketika ini seterusnya mampu memberi kuasa pengetahuan yang hebat kepada sesiapa yang menemuinya!

    Justeru, pengkaji berlainan bangsa daripada seluruh dunia terus-menerus meneliti rekod dialog Plato mengenai tamadun yang dikatakan lebih awal daripada tamadun Mesir, Babylon Mesopotamia, Inca dan Greek itu selain meneliti keadaan geografi Bumi kini.

    Antara meraka adalah Pakar Kejuruteraan Nuklear Brazil, Arysio Nunes dos Santos, yang mendapati latar tempat cerita Plato menyamai kawasan Nusantara khususnya Indonesia.

    Pelbagai hasil kajian yang ditemuinya menolak teori lain yang mengatakan Atlantis terletak di kawasan Mediterranean, Andalusia, Antartika, Caribbean dan pelbagai tempat lagi.

    Antara hujah lelaki itu, gunung berapi yang menenggelamkan Atlantis dirujuk sebagai satu kawasan yang paling kerap mengalami gempa bumi dan memiliki banyak gunung berapi aktif iaitu di Nusantara.
    Mengenai suhu pula, Plato menegaskan bahawa penduduk Atlantis hidup dalam iklim tropika dengan pisang sebagai salah satu tanaman. Penduduk Atlantis dikatakan menanam tanaman dua kali setahun dan ia dikaitkan tanaman padi, gandum atau barli yang banyak ditemui di kawasan Timur Jauh.

    Mengenai jumlah penduduk pula, Santos menegaskan Plato merujuk kepada sejumlah besar penduduk yang secara langsung menafikan dakwaan Atlantik di Eropah, Asia Utara dan Utara Amerika sebagai Atlantis kerana kawasan berkenaan ketika itu masih berais.

    Kenyataan Plato bahawa Atlantis menghasilkan banyak bijih timah dan emas juga selaras dengan galian yang banyak terdapat di Asia Tenggara iaitu bijih timah dan emas sehingga pernah digelar ‘Semenanjung Emas’, ‘Gunung Emas’ dan ‘Bukit Besi Putih’.

    Atlantis juga dikatakan disinari panas sepanjang tahun yang dikaitkan sebagai iklim tropika di kawasan berhampiran garisan Khatulistiwa.

    Selain itu, terdapat umat Islam yang mengaitkan tenggelamnya Atlantis disebabkan peristiwa banjir besar Nabi Nuh AS.

    Sejak wujudnya cerita Plato itu, misteri Atlantis terus menerus dikaji dan difantasi. Teori yang pelik turut kedengaran seperti kota Atlantis kini masih wujud di dasar laut dengan penduduknya menjadi ikan duyung.

    Golongan skeptikal menamatkan misteri itu dengan babak yang mungkin seperti berikut - selepas selesai menceritakan mengenai kota Atlantis itu, Plato menghembuskan nafasnya dengan dada yang lapang. Dia berpuas hati dengan cerita hebatnya mengenai Atlantis.

    Kepuasan Plato menghasilkan karya termasyhur itu mungkin sama saja seperti dirasai Steven Spielberg selepas sutradara Amerika Syarikat itu selesai mengarahkan filem fiksyen terhebatnya iaitu ‘ET’.

    “Kalau begini, mungkin selepas ini kita boleh kaji dan cari lokasi ‘Middle Earth’ seperti di dalam filem ‘Lord of The Rings’ pula!” kata sinis seorang daripada kumpulan skeptikal itu.

    Kerajaan Medang atau Kerajaan Mataram Kuno

    Kerajaan Medang adalah nama sebuah kerajaan yang berdiri di Jawa Tengah pada abad ke-8, kemudian pindah ke Jawa Timur pada abad ke-10, dan akhirnya runtuh pada awal abad ke-11.

    Pada umumnya, istilah Kerajaan Medang hanya lazim dipakai untuk menyebut periode Jawa Timur saja, padahal berdasarkan prasasti-prasasti yang telah ditemukan, nama Medang sudah dikenal sejak periode sebelumnya, yaitu periode Jawa Tengah.

    Sementara itu, nama yang lazim dipakai untuk menyebut Kerajaan Medang periode Jawa Tengah adalah Kerajaan Mataram, yaitu merujuk kepada salah daerah ibu kota kerajaan ini. Kadang untuk membedakannya dengan Kerajaan Mataram Islam yang berdiri pada abad ke-16, Kerajaan Medang periode Jawa Tengah biasa pula disebut dengan nama Kerajaan Mataram Kuno atau Kerajaan Mataram Hindu.

    Pusat Kerajaan Medang
    Bhumi Mataram adalah sebutan lama untuk Yogyakarta dan sekitarnya. Di daerah inilah untuk pertama kalinya istana Kerajaan Medang diperkirakan berdiri (Rajya Medang i Bhumi Mataram). Nama ini ditemukan dalam beberapa prasasti, misalnya prasasti Minto dan prasasti Anjukladang. Istilah Mataram kemudian lazim dipakai untuk menyebut nama kerajaan secara keseluruhan, meskipun tidak selamanya kerajaan ini berpusat di sana.

    Sesungguhnya, pusat Kerajaan Medang pernah mengalami beberapa kali perpindahan, bahkan sampai ke daerah Jawa Timur sekarang. Beberapa daerah yang pernah menjadi lokasi istana Medang berdasarkan prasasti-prasasti yang sudah ditemukan antara lain,

    * Medang i Bhumi Mataram (zaman Sanjaya)
    * Medang i Mamrati (zaman Rakai Pikatan)
    * Medang i Poh Pitu (zaman Dyah Balitung)
    * Medang i Bhumi Mataram (zaman Dyah Wawa)
    * Medang i Tamwlang (zaman Mpu Sindok)
    * Medang i Watugaluh (zaman Mpu Sindok)
    * Medang i Wwatan (zaman Dharmawangsa Teguh)

    Menurut perkiraan, Mataram terletak di daerah Yogyakarta sekarang. Mamrati dan Poh Pitu diperkirakan terletak di daerah Kedu. Sementara itu, Tamwlang sekarang disebut dengan nama Tembelang, sedangkan Watugaluh sekarang disebut Megaluh. Keduanya terletak di daerah Jombang. Istana terakhir, yaitu Wwatan, sekarang disebut dengan nama Wotan, yang terletak di daerah Madiun.

    Awal Berdirinya Kerajaan
    Prasasti Mantyasih tahun 907 atas nama Dyah Balitung menyebutkan dengan jelas bahwa raja pertama Kerajaan Medang (Rahyang ta rumuhun ri Medang ri Poh Pitu) adalah Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya.

    Sanjaya sendiri mengeluarkan prasasti Canggal tahun 732, namun tidak menyebut dengan jelas apa nama kerajaannya. Ia hanya memberitakan adanya raja lain yang memerintah pulau Jawa sebelum dirinya, bernama Sanna. Sepeninggal Sanna, negara menjadi kacau. Sanjaya kemudian tampil menjadi raja, atas dukungan ibunya, yaitu Sannaha saudara perempuan Sanna.

    Nama Sanna tidak terdapat dalam daftar para raja versi prasasti Mantyasih. Bisa jadi ia memang bukan raja Kerajaan Medang. Kemungkinan besar riwayat Sanjaya mirip dengan Raden Wijaya (pendiri Kerajaan Majapahit akhir abad ke-13) yang mengaku sebagai penerus takhta Kertanagara raja Singhasari, namun memerintah sebuah kerajaan baru dan berbeda.

    Kisah hidup Sanjaya secara panjang lebar terdapat dalam Carita Parahyangan yang baru ditulis ratusan tahun setelah kematiannya, yaitu sekitar abad ke-16.

    Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Mataram_Kuno

    Sejarah Semarang


    Kota Semarang adalah ibukota Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Semarang merupakan kota yang dipimpin oleh walikota H.Sukawi Sutarip, SH, SE. Kota ini terletak sekitar 466 km sebelah timur Jakarta, atau 312 km sebelah barat Surabaya. Semarang berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kabupaten Demak di timur, Kabupaten Semarang di selatan, dan Kabupaten Kendal di barat.
    Sejarah Semarang berawal kurang lebih pada abad ke-8 M, yaitu daerah pesisir yang bernama Pragota (sekarang menjadi Bergota) dan merupakan bagian dari kerajaan Mataram Kuno. Daerah tersebut pada masa itu merupakan pelabuhan dan di depannya terdapat gugusan pulau-pulau kecil. Akibat pengendapan, yang hingga sekarang masih terus berlangsung, gugusan tersebut sekarang menyatu membentuk daratan. Bagian kota Semarang Bawah yang dikenal sekarang ini dengan demikian dahulu merupakan laut. Pelabuhan tersebut diperkirakan berada di daerah Pasar Bulu sekarang dan memanjang masuk ke Pelabuhan Simongan, tempat armada Laksamana Cheng Ho bersandar pada tahun 1405 M. Di tempat pendaratannya, Laksamana Cheng Ho mendirikan kelenteng dan mesjid yang sampai sekarang masih dikunjungi dan disebut Kelenteng Sam Po Kong (Gedung Batu).

    Pada akhir abad ke-15 M ada seseorang ditempatkan oleh Kerajaan Demak, dikenal sebagai Pangeran Made Pandan, untuk menyebarkan agama Islam dari perbukitan Pragota. Dari waktu ke waktu daerah itu semakin subur, dari sela-sela kesuburan itu muncullah pohon asam yang arang (bahasa Jawa: Asem Arang), sehingga memberikan gelar atau nama daerah itu menjadi Semarang.
    Sebagai pendiri desa, kemudian menjadi kepala daerah setempat, dengan gelar Kyai Ageng Pandan Arang I. Sepeninggalnya, pimpinan daerah dipegang oleh putranya yang bergelar Pandan Arang II (kelak disebut sebagai Sunan Bayat). Di bawah pimpinan Pandan Arang II, daerah Semarang semakin menunjukkan pertumbuhannya yang meningkat, sehingga menarik perhatian Sultan Hadiwijaya dari Pajang. Karena persyaratan peningkatan daerah dapat dipenuhi, maka diputuskan untuk menjadikan Semarang setingkat dengan Kabupaten. Pada tanggal 2 Mei 1547 bertepatan dengan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW, tanggal 12 rabiul awal tahun 954 H disahkan oleh Sultan Hadiwijayasetelah berkonsultasi dengan Sunan Kalijaga. Tanggal 2 Mei kemudian ditetapkan sebagai hari jadi kota Semarang.

    Kemudian pada tahun 1678 Amangkurat II dari Mataram, berjanji kepada VOC untuk memberikan Semarang sebagai pembayaran hutangnya, dia mengklaim daerah Priangan dan pajak dari pelabuhan pesisir sampai hutangnya lunas. Pada tahun 1705 Susuhunan Pakubuwono I menyerahkan Semarang kepada VOC sebagai bagian dari perjanjiannya karena telah dibantu untuk merebut Kartasura. Sejak saat itu Semarang resmi menjadi kota milik VOC dan kemudian Pemerintah Hindia Belanda.

    Pada tahun 1906 dengan Stanblat Nomor 120 tahun 1906 dibentuklah Pemerintah Gemeente. Pemerintah kota besar ini dikepalai oleh seorang Burgemeester (Walikota). Sistem Pemerintahan ini dipegang oleh orang-orang Belanda berakhir pada tahun 1942 dengan datangya pemerintahan pendudukan Jepang.

    Pada masa Jepang terbentuklah pemerintah daerah Semarang yang di kepalai Militer (Shico) dari Jepang. Didampingi oleh dua orang wakil (Fuku Shico) yang masing-masing dari Jepang dan seorang bangsa Indonesia. Tidak lama sesudah kemerdekaan, yaitu tanggal 15 sampai 20 Oktober 1945 terjadilah peristiwa kepahlawanan pemuda-pemuda Semarang yang bertempur melawan balatentara Jepang yang bersikeras tidak bersedia menyerahkan diri kepada Pasukan Republik. Perjuangan ini dikenal dengan nama Pertempuran lima hari di Semarang.

    Tahun 1946 lnggris atas nama Sekutu menyerahkan kota Semarang kepada pihak Belanda.Ini terjadi pada tangga l6 Mei 1946. Tanggal 3 Juni 1946 dengan tipu muslihatnya, pihak Belanda menangkap Mr. Imam Sudjahri, walikota Semarang sebelum proklamasi kemerdekaan. Selama masa pendudukan Belanda tidak ada pemerintahan daerah kota Semarang. Narnun para pejuang di bidang pemerintahan tetap menjalankan pemerintahan di daerah pedalaman atau daerah pengungsian diluar kota sampai dengan bulan Desember 1948. daerah pengungsian berpindah-pindah mulai dari kota Purwodadi, Gubug, Kedungjati, Salatiga, dan akhirnya di Yogyakarta. Pimpinan pemerintahan berturut-turut dipegang oleh R Patah, R.Prawotosudibyo dan Mr Ichsan. Pemerintahan pendudukan Belanda yang dikenal dengan Recomba berusaha membentuk kembali pemerintahan Gemeente seperti dimasa kolonial dulu di bawah pimpinan R Slamet Tirtosubroto. Hal itu tidak berhasil, karena dalam masa pemulihan kedaulatan harus menyerahkan kepada Komandan KMKB Semarang pada bulan Februari 1950. tanggal I April 1950 Mayor Suhardi, Komandan KMKB. menyerahkan kepemimpinan pemerintah daerah Semarang kepada Mr Koesoedibyono, seorang pegawai tinggi Kementrian Dalam Negeri di Yogyakarta. Ia menyusun kembali aparat pemerintahan guna memperlancar jalannya pemerintahan. Sejak tahun 1945 para walikota yang memimpin kota besar Semarang yang kemudian menjadi Kota Praja dan akhirnya menjadi Kota Semarang adalah sebagai berikut:

    * Mr. Moch.lchsan
    * Mr. Koesoebiyono (1949 - 1 Juli 1951)
    * RM. Hadisoebeno Sosrowardoyo ( 1 Juli 1951 - 1 Januari 1958)
    * Mr. Abdulmadjid Djojoadiningrat ( 7Januari 1958 - 1 Januari 1960)
    * RM Soebagyono Tjondrokoesoemo ( 1 Januari 1961 - 26 April 1964)
    * Mr. Wuryanto ( 25 April 1964 - 1 September 1966)
    * Letkol. Soeparno ( 1 September 1966 - 6 Maret 1967)
    * Letkol. R.Warsito Soegiarto ( 6 Maret 1967 - 2 Januari 1973)
    * Kolonel Hadijanto ( 2Januari 1973 - 15 Januari 1980)
    * Kol. H. Imam Soeparto Tjakrajoeda SH ( 15 Januari 1980 - 19 Januari 1990)
    * Kolonel H.Soetrisno Suharto ( 19Januari 1990 - 19 Januari 2000)
    * H. Sukawi Sutarip SH. ( 19 Januari 2000 - sekarang )

    Penguasa Semarang: Dibawah Pajang dan Mataram

    * Pangeran Kanoman atau Pandan Arang III (1553-1586)
    * Mas R.Tumenggung Tambi (1657-1659)
    * Mas Tumenggung Wongsorejo (1659 - 1666)
    * Mas Tumenggung Prawiroprojo (1666-1670)
    * Mas Tumenggung Alap-alap (1670-1674)
    * Kyai Mertonoyo, Kyai Tumenggung Yudonegoro atau Kyai Adipati Suromenggolo (1674 -1701)

    Dibawah VOC:

    * Raden Martoyudo atau Raden Sumimngrat (1743-1751)
    * Marmowijoyo atau Sumowijoyo atau Sumonegoro atau Surohadmienggolo (1751-1773)
    * Surohadimenggolo IV (1773-?)
    * Adipati Surohadimenggolo V atau kanjeng Terboyo (?)

    Pemerintahan Hindia Belanda:

    * Raden Tumenggung Surohadiningrat (?-1841)
    * Putro Surohadimenggolo (1841-1855)
    * Mas Ngabehi Reksonegoro (1855-1860)
    * RTP Suryokusurno (1860-1887)
    * RTP Reksodirjo (1887-1891)
    * RMTA Purbaningrat (1891-?)

    Pemerintahan dibagi 2 : Kota Praja dan Kabupaten. Penguasa pribumi kemudian menjadi Bupati Semarang:

    * Raden Cokrodipuro (?-1927)
    * RM Soebiyono (1897-1927)
    * RM Amin Suyitno (1927-1942)
    * RMAA Sukarman Mertohadinegoro (1942-1945)

    Pemerintahan Republik Indonesia:

    * R. Soediyono Taruna Kusumo (1945-1945), hanya berlangsung satu bulan
    * M. Soemardjito Priyohadisubroto (tahun 1946)

    Pemerintahan RIS:

    * RM.Condronegoro hingga tahun 1949

    Setelah Pengakuan Kedaulatan:

    * M. Sumardjito (1946-1952)
    * R. Oetoyo Koesoemo (1952-1956).

    Utuk Bupati selanjutnya buka halaman Kabupaten Semarang

    Kotamadya Semarang secara definitif ditetapkan berdasarkan UU Nomor 13 tahun 1950 tentang pembentukan kabupaten-kabupaten dalam lingkungan Provinsi Jawa Tengah.

    Sumber: Wikipedia Bahasa Indonesia

    History and art district kebumen



    The name of Kebumen seems came from word ‘Kabumian’ – a living place of someone who called Kyai Bumi. This place before was a destination of Bumidirja or Mangkubumi Prince escaping from Mataram at June 26th 1677, when 1st Sunan Amangkurat held the power. Before that, Kebumen that called Panjer at that time, was noted in Indonesia History Map as one starting movement of Mataram warriors in Sultan Agung era to attack Deutch Colonizer in Batavia ( Jakarta ).


    Bagus Bodronolo, one of great – grandchild of Senopati Prince, who was born at Karanglo Village, Panjer, received a demand from Ki Suwarno, a representator from Mataram, to gathering food material for Mataram soldiers. And as a reward, Sultan Agung declared Ki Suwarno as Panjer’s Bupati and sent Bagus Bodronolo to Batavia as guarding soldier for the food expedition.

    Same with other places in Central Java, cultures and arts in Karanganyar are similar. The mystic is still strongy influence to cultures and arta. Taken an example, the kuda lumping show is a unification between art and magic.

    1. Kuda Lumping Trance
    Kuda lumping or ebleg or jathilan or kuda kepang is familiar trance dance in this region. The show of kuda lumping consist of players, woven bamboo flat horse, singo barong, gamelan orchestra, and mastermind. The mastermind has important role in success of show, where he able to call satan and to possesse them into the soul of players during show. When the show begin, players dance by gamelan orchestra arrangement. Then the mastermind calls satan, suddenly some of players begin trance that be causes by nfiltrate of satan to players. Satans infiltrate to the soul of players and unify or possesse to soul of players. Players will become not conscicousness and and trance, thats why players able to eat glass, metal, fire without injure them. It is the really magic and mysthic. When the show finish, the mastermind awareness players one by one, and satan will be fleed out from soul of players. The groups of Kuda Lumping are owned from vilagges : Karanganyar (Singoyudo), Wonorejo, Panjatan, Pekuwon, Plarangan, Sidomulyo.

    2. Wayang Kulit
    Wayang Kulit is the most popular art show in Java island since hundreds century ago. Wayang kulit is made from leather of buffalo or other. Then it is chiselled and painted becoming wayang. The names of wayang are more than 100 names of profile. The story of wayang began in Java since thousand years ago, such as Barathayuda & Ramayana. Wayang is the oldest and the best art in Java island. Besides wayang kulit, there is wayang orang that play by people. The group of wayang kulit in Karanganyar region is owned by Ki Dalang Slamet from Desa Sidomulyo. National TV such as TVRI and Indosiar always relay the wayang kulit show every week end.

    3. Karawitan / uyon-uyon
    Karawitan or uyon-uyon is singing javanesse songs that arraged by gamelan music. Titles of song that ussualy sing are Gendhing Macapat : Dandhanggula, Kinanthi, Pangkur, Megatruh, etc. Gamelan is arranged by Slendro and Pelog. Many people who has party such as wedding party and sunatan always play karawitan live or by cassete.

    4. Campursari
    Campursari is unification between karawitan that arranged by gamelan and modern music instrument such as piano, guitar and drum. Sometimes a story also play during show of campursari. Campursari firstly conducted by Manthous, and now becomes popular music in Java. National TVRI relays the campursari show.

    5. Angguk
    Angguk is drama story about Marmaya and Marmadi, tell story about story of Islam in Java.

    6. Janengan
    Janengan is music influenced by Islam songs. It is arranged by terbang and rebana orchestra.

    7. Jemblung
    Jemblung is played by 4 people only. Ussualy they tell about story of wayang. They sit surrounding table consist of food such as tumpeng. They begin play and be arranged by music from their mouths.

    8. Ketoprak
    Ketoprak si drama story that it is played by many players. The story ussualy about history of Java, and it is arranged by gamelan orchestra.

    The History of Yogyakarta



    Yogyakarta was founded in 1755 and was the capital of Mataram kingdom when the Dutch came along. The Dutch granted the kings by title Sultan of Yogyakarta territory. Yogyakarta was also the scene of Indonesia's most successful rebellions against the Dutch - firstly with Prince Diponegoro who waged a holy war against colonial rule from 1825 to 1830, and also serving as the capital of the newly independent republic after World War II when the Dutch reoccupied Batavia (Jakarta).


    People have lived in Central Java and Yogyakarta area since immemorial time as over the centuries they have been attracted by the rich soil caused by the numerous volcanic eruptions. The earliest recorded history dares from the 9th century and was dominated by Hindu and Buddhist kingdoms that gave rise to the magnificent temples such as Prambanan, Ratu Boko, Kalasan, Sambisari and Borobudur found in this area. Yogyakarta itself dates back to the 18th century. In the early 18th century, Pakubuwono II ruled the Muslim Mataram Kingdom of the time. After he passed away, there was a conflict between his son and his brother, which was encouraged by the Dutch who were trying to colonize the region on a 'divide and rule' basis.

    The Kingdom was divided into two regions namely Surakarta Hadiningrat kingdom under Sunan Pakubuwono III rule, and Nyayogyakarta Hadiningrat kingdom under Sultan Hamengku Buwono I rule. He was the founder of the present line of Sultans who still live in the Kraton and play important role in Javanese culture. The second kingdom was later called Yogyakarta, now better known as Yogyakarta.

    After the independence of the Republic of Indonesia was proclaimed, Sri Sultan Hamengkubuwono IX and Sri Paku Alam VIII launched a statement that the Kasultanan and Kadipaten (the two royal regions), belonged to Republic of Indonesia as a part of the whole area of Indonesia Republic. Since then, it has been known as Yogyakarta Special Region and was given a provincial status in 1950 in recognition of its important role in it fighting for the independence.

    Semarang: Stories from the Past




    “Hey, miss, would you like a ride to tour around the Old Town?” a tricycle driver called to me while I was crossing the Berok Bridge which connected the old and new town of Semarang. The clouds were getting dark, the air felt hot and humid. I hesitated for a while. “Only ten thousand rupiahs,” he said again. I was tempted by the generous offer but it was just about to rain and I had to hurry to meet my friend who was waiting at the other end of the Old Town. “Maybe next time,” I smiled to him and kept on walking.



    The Old Town (“Kawasan Kota Lama” in Bahasa Indonesia or “Outstadt” in Dutch) is a 31-hectare area in Semarang, the capital city of Central Java, Indonesia, which is very much a Dutch colonial heritage. In the 18th century, it served as the commercial centre especially for sugar trading. To safeguard the area, the Dutch decided to build the Vijhoek fort which surrounded the whole old town. The Berok Bridge used to be located at one of the fort gates. The Dutch actually called it “burg” which means “bridge”. However, due to the inability of local people to pronounce the word correctly, the bridge was eventually called “Berok”.


    The Old Town is, in a way, different from other parts of Semarang because it is geographically separated from its surrounding area (unlike the streets outside, all the roads in the Old Town are paved) and it features a distinctive architectural style with a strong link to its colonial past. Thus, it became known as “Little Nederland” – a spot where the past managed to survive. There are still about 50 historical buildings scattered around the Old Town. Some of them are still in use today but unfortunately, most are already dilapidated and abandoned.



    Despite the inadequate conservation, I still enjoyed walking through the Old Town of Semarang. Old and decaying as it was, I knew there were stories hidden in every corner of the Old Town and for me, stories were treasures. I strolled across PT. Pelni (which was used to be the sea cargo company called NV Bouw Maatschapij), the office of the Association of Batik Indonesia (designed in 1930’s specifically to suit the tropical weather), and the Telkom Office (built in 1907 as a telegraph centre). At the heart of the Old Town, I stopped at the beautiful Blenduk Church built in 1753. “Blenduk” in Javanese language means “dome”. The church, as one can easily guess, earned its name due to its big red dome. Today the church belongs to GPIB Immanuel. Across the church, stood the Jiwasraya Office, which was built in 1920’s by the architect Herman Thomas Kasrten. And eventually, near the other end of the main Suprapto Street, there was the Marba building. It was from the 19th century, built by a rich Yemen trader named Marta Badjunet. The abbreviation of his name was taken as the name of the building to commemorate his good deeds.



    The rain started to fall and I ran to find my friend in her car. “What took you so long?” she said as soon as I got into the car, “Let’s go and get some lunch.” So we drove along the riverside to Gang Lombok, a quiet corner in the Chinatown not far from Little Nederland. A beautiful Buddhist temple marked the area and floating on the river was a replica of the ship used by the Great Admiral Zheng He, one of the first Chinese explorers who came to Indonesia. There was an old noodle shop there called Siang Kie which served the best noodles in Semarang.



    Pendaftaran Mahasiswa Baru UDINUS




    Click Me!


     
    Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
    Copyright © 2011. Warta Berita - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website Published by Mas Template
    Proudly powered by Blogger